Deskripsi
Judul Buku: Ritual Gawai Dayak: Meneguhkan Suku Dayak Seberuang di Tengah Terjangan Modernisasi
Penulis: Dr. Septian Peterianus, S.S., M.Hum & Lilian Slow, S.S., M.Hum
Penyunting: Ahmad Jauhari
Cetakan: I, Oktober 2024
vix + 150 hlm; 15.5 x 23 cm
163-jivaloka-publishing
ISBN: (Cetak)
ISBN: (Digital)
Harga: Rp. 95.000,-
SINOPSIS
Dayak Seberuang merupakan satu di antara suku Dayak yang banyak bermukim di wilayah Kalimantan Barat hingga ke daerah Sarawak Malaysia. Hingga kini, eksistensinya masih bertahan, dengan rutin secara tahunan mengadakan ritual Gawai Dayak. Ritual ini dianggap sebagai upacara sakral penuh mistis dan hanya orang-orang tertentu, khususnya ketua adat, yang diperbolehkan memimpin kegiatan ini.
Ritual ini merupakan tanda sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen melimpah dari sang pencipta. Sebelum ritual berlangsung, ketua adat menyiapkan perlengkapan ritual seperti: tikar, daun pisang, nasi, kepala babi, tempat sesaji dari bambu dan sebagainya.
Buku ini berkisah perihal ritual Gawai Dayak sebagai upaya menuguhkan Suku Dayak Seberuang di tengah terjangan arus modernisasi. Maka, eksistensinya dipertaruhkan dihadapan modernisasi dan era komunikasi digital. Buku ini ditujukan bagi siapa saja, yang berminat dengan studi ilmu-ilmu sosial humaniora, antropologi, sosiologi, dan diskursus kebudayaan.
======================================================
Septian Peterianus, lahir di Pemuar, Melawi, Kalimantan Barat, pada 16 September 1987. Tahun 2007 meneruskan S1 di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta lulus 2011. Tahun 2012 meneruskan studi S2 di Universitas yang sama, selesai tahun 2015. Tahun 2015, bergabung sebagai dosen di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Melawi, juga sebagai sekretaris LPPM sampai 2017. Selanjutnya, dipercaya sebagai Ketua Senat STKIP Melawi tahun 2017-2018. Tahun 2019 hingga kini, dipercaya sebagai Ketua STKIP Melawi. Ia dapat dihubungi via email: speterianus@gmail.com
Lilian Slow, lahir 20 Februari 1987 di Balai Karangan, Sekayam, Sanggau, Kalimantan Barat. Penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, yaitu ABA (Akademi Bahasa Asing) Pontianak, STBA Yapari-ABA Bandung (Sekolah Tinggi Bahasa Asing). Selanjutnya, penulis mengambil Program Pasca Sarjana (Magister) Jurusan Bahasa Inggris di Universitas Hasanuddin, Makassar. Karirnya sebagai dosen dimulai tahun 2014 di STKIP Melawi-Entikong hingga sekarang. Ia mengajar beberapa mata kuliah dalam rumpun Ilmu Bahasa, khususnya Bahasa Inggris di kampus tersebut.






