Deskripsi
Judul Buku: I AM KDM: Hadir, Mendengar, Bertindak
Penulis: Dr. Junaidi, S.Ag., M.Hum., M.Kom.
Cetakan: I, Juni 2026
vi + 96 hlm; 15.5 x 23 cm
230-jivaloka-publishing
ISBN: (Cetak)
ISBN: (Digital)
Harga: Rp. ,-
SINOPSIS
Kekuasaan hanya bermakna jika membumi. Ia harus menyentuh realitas. “Hadir” bukan sekadar datang lalu pergi. “Mendengar” bukan sekadar tahu lalu diam. “Bertindak” bukan sebatas mengumbar janji. Ketiganya adalah satu tarikan napas kepemimpinan yang memanusiakan. Melalui buku ini, penulis merangkum pengalaman dan refleksi nyata. Isinya adalah pelajaran tentang cara merekonstruksi kepercayaan publik. Kuncinya adalah konsistensi. Dimulai dari hal terkecil, setiap hari, dan bersinambungan.
Refleksi tiga momentum ini adalah wujud nyata kehadiran manusia untuk sesamanya. Setiap pemimpin tentu punya gaya, cara, dan strategi beragam. Namun, rakyat tidak mengingat pidato megah di atas panggung. Rakyat hanya ingat derap langkah kaki pemimpinnya. Kehadiran di tengah terik panas, hujan, dan badai kehidupan. Mereka butuh telinga yang tulus mendengar resah gelisah. Mereka butuh tangan cepat bertindak tanpa menunggu aba-aba. Kepemimpinan sejati tidak butuh protokoler berbelit-belit. Ia menolak panggung sandiwara birokrasi.
Di era ini, kualitas kepemimpinan tidak cukup diukur di atas kertas. Tanda tangan pada selembar kebijakan tidak lagi memadai. Kepemimpinan sejati diuji langsung di lapangan, di ruang-ruang kecil tempat rakyat bertahan hidup. Buku ini mengusung konsep utama: “Hadir, Mendengar, Bertindak”, bahwa legitimasi kekuasaan tumbuh dari kedekatan, bukan dari jarak membentang jauh. Perubahan besar berawal dari langkah kecil. Ia hadir lewat ketulusan, pendengaran tanpa penghakiman, dan tindakan nyata tanpa menunggu kesempurnaan.
Buku ini tidak menjanjikan jawaban mutlak. Ia bukanlah formula absolut untuk menyelesaikan semua masalah. Namun, ia adalah sebuah awal untuk memulai perubahan. Karenanya, ia adalah undangan. Undangan berdiskusi, berdialog, dan berdialektika. Melaluinya, kita diajak merenungkan cara kita hadir; sebagai pemimpin, aparatur negara, maupun warga biasa. Kita semua ditantang menjadi versi “KDM” terbaik dari diri sendiri: sosok yang tulus hadir, mau mendengar, dan berani bertindak demi keharmonisan bersama.







