{"id":727,"date":"2022-09-09T15:27:16","date_gmt":"2022-09-09T15:27:16","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jivaloka.com\/?post_type=product&#038;p=727"},"modified":"2022-09-11T02:00:00","modified_gmt":"2022-09-11T02:00:00","slug":"menyelami-spiritualitas-factum-tentang-tuhan-manusia-dan-cinta","status":"publish","type":"product","link":"https:\/\/www.jivaloka.com\/?product=menyelami-spiritualitas-factum-tentang-tuhan-manusia-dan-cinta","title":{"rendered":"Menyelami Spiritualitas: Factum tentang Tuhan, Manusia, dan Cinta"},"content":{"rendered":"<p>Judul Buku: Menyelami Spiritualitas: Factum tentang Tuhan, Manusia, dan Cinta<\/p>\n<p>Penulis: Munawir Haris;\u00a0Editor: Ahmad Jauhari Cetakan: 1, 2020<br \/>\nvi+ 112 hlm; 15 x 23 cm<br \/>\n04-jivaloka-publishing<br \/>\nISBN: 978-623-92850-3-6 (Cetak)<br \/>\nISBN: 978-623-95333-6-6 (Digital)<br \/>\nHarga: Rp. 85.000,-<\/p>\n<p><strong>SINOPSIS<\/strong><\/p>\n<h5><\/h5>\n<h5><span style=\"color: #0000ff;\">Manusia, dalam diskursus filsafat, dilihat sebagai entitas fisik dan jiwa, yang tidak terpisahkan. Filsafat semula bicara realitas immanen. Namun,\u00a0sejak muncul sosok Socrates, problem filsafat bergeser ke diskursus perihal manusia. Penyelidikan itu bermula dari pertanyaan, \u201csiapakah aku?\u201d\u00a0Mengenal jati diri manusia adalah tujuan filsafat Socrates. Tanpa mengenal\u00a0diri, manusia sebagai subjek,\u00a0kesulitan menentukan makna kehidupannya. Pengenalan itu diungkapkan Socrates melalui diktum \u201c<em>know your self<\/em>\u00a0(ketahuilah dirimu).\u201d\u00a0Diktum\u00a0Socrates, dimungkinkan menyebar di kawasan Jazirah Arab,\u00a0di mana\u00a0semangatnya ditemukan dalam hadits nabi, <em>man `arafa nafsahu faqad arafa rabbahu<\/em>\u00a0(barang siapa mengenali dirinya, akan mengenali Tuhannya).<\/span><\/h5>\n<h5><\/h5>\n<h5><span style=\"color: #0000ff;\">Satu\u00a0ciri berpikir filsafat adalah radikal,\u00a0tidak berhenti pada\u00a0fakta.\u00a0Artinya,\u00a0manusia oleh sebab akal dan pikirannya, senantiasa\u00a0mempertanyakan dasar segala hal, termasuk keberadaan dirinya di dunia. Keunikan ini\u00a0<em>inhern<\/em>\u00a0di dalam diri manusia. Maka, setiap manusia pada dasarnya punya bakat berfilsafat. Diktum Socrates mengajak untuk mengenali diri manusia lebih mendalam,\u00a0apa sejatinya\u00a0diri manusia? Pernyataan Socrates menegaskan,\u00a0manusia sebagai makhluk yang berakal budi. Kemuliaan manusia dinilai sejauh manusia hidup menjunjung tinggi akal budinya. Apa yang dimaksud dengan prinsip akal budi?\u00a0Akal budi yang dimaksud Socrates adalah berpikir tentang keutamaan atau kesempurnaan. Diktum Socrates mengajarkan manusia hidup dalam kemuliaan.<\/span><\/h5>\n<h5><\/h5>\n<h5><span style=\"color: #0000ff;\">Hadist nabi\u00a0tersebut, merupakan upaya\u00a0mengenalkan\u00a0manusia akan dirinya,\u00a0sebagai\u00a0perantara pengenalan kepada Allah. Manusia adalah makhluk jasmani dan rohani.\u00a0Jasmani maupun rohaninya,\u00a0tidak terpisahkan. Rohani merupakan wilayah substansial, lebih dalam, dunia yang sejati. Sedangkan jasmani wilayah materi, dunia yang sementara dan bukan kehidupan yang sejati. Dunia rohani adalah dunia hidup manusia yang disinari oleh sisi ketuhanan. Kehidupan rohani justru diabaikan\u00a0sebagian besar manusia,\u00a0karena lebih terpikat gemerlap jasmani dan materi. Dalam konteks ini hadist nabi menemukan relevansinya. Pengenalan manusia terhadap dirinya yang dimaksud ialah jangan sampai manusia melupakan relung rohani,\u00a0yang menjadi dasar dari kemuliaan manusia.<\/span><\/h5>\n<h5><\/h5>\n<h5><span style=\"color: #0000ff;\">Kehidupan modern,\u00a0dengan perkembangan iptek dan sains modern, memanjakan hidup manusia. Kemajuan sains,\u00a0menjadikan urusan manusia,\u00a0lebih mudah,\u00a0dan serba cepat. Kendati demikian,\u00a0kehidupan modern tidak menjamin kebahagiaan manusia. Kehidupan modern melahirkan patologi sosial, di antaranya, manusia kehilangan nilai sakral,\u00a0sehingga berbuat sesukanya, kehilangan pertimbangan moral dan spritual,\u00a0terbukti kian merebaknya kejahatan dan lain sebagainya. Gejala ini,\u00a0sekurang-kurangnya memperlihatkan orientasi manusia,\u00a0telah dipersempit pada aspek jasmani atau fisik. Dalam hal ini, kehidupan modern berikut capaian sains dan iptek canggih,\u00a0justru memfasilitasi pemenuhan kebutuhan jasmani. Di tengah kondisi yang serba mendesak, manusia modern membutuhkan perspektif ruhani,\u00a0untuk menyeimbangkan kebutuhan dasariahnya. Sejauh ini aspek materalisme jasmani mendapatkan porsi tidak wajar.<\/span><\/h5>\n<h5><\/h5>\n<h5><span style=\"color: #0000ff;\">Bagaimana dengan buku ini? Di bawah judul <em>Menyelami Dunia Sp<\/em><em>i<\/em><em>ritualitas<\/em><em>: Factum Perihal Manusia, Tuhan, dan Cinta <\/em>ditulis sebagai bahan penyeimbang takaran rohani manusia. Buku ini dimaksudkan untuk mengaktifkan kembali tema-tema spritual,\u00a0utamanya berkaitan dengan realitas ketuhanan dan kemuliaan manusia. Memang perlu\u00a0diakui,\u00a0problem tersebut sudah menjadi\u00a0klasik. Bahkan,\u00a0di awal paragraf,\u00a0Socrates telah menginisiasi perenungan mendalam dengan diktum <em>kenalilah dirimu<\/em>. Kehidupan sejati manusia menurut Socrates terletak pada sisi spiritualnya atau pada ruhnya,\u00a0sebagai sumber kemuliaan dan keutamaan manusia. Isu klasik bukan berarti <em>meaningless<\/em>. Buku ini\u00a0menemukan relevansinya di saat kehidupan modern, tengah\u00a0melupakan sisi rohaninya.<strong>[]<\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Judul Buku: Menyelami Spiritualitas: Factum tentang Tuhan, Manusia, dan Cinta Penulis: Munawir Haris;\u00a0Editor: Ahmad Jauhari Cetakan: 1, 2020 vi+ 112 hlm; 15 x 23 cm 04-jivaloka-publishing ISBN: 978-623-92850-3-6 (Cetak) ISBN: 978-623-95333-6-6 (Digital) Harga: Rp. 85.000,- SINOPSIS Manusia, dalam diskursus filsafat, dilihat sebagai entitas fisik dan jiwa, yang tidak terpisahkan. Filsafat semula bicara realitas immanen. Namun,\u00a0sejak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"featured_media":728,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":[],"product_cat":[32],"product_tag":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jivaloka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/product\/727"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jivaloka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/product"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jivaloka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/product"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jivaloka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=727"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jivaloka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/728"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jivaloka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=727"}],"wp:term":[{"taxonomy":"product_cat","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jivaloka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fproduct_cat&post=727"},{"taxonomy":"product_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jivaloka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fproduct_tag&post=727"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}