{"id":679,"date":"2022-09-09T03:44:09","date_gmt":"2022-09-09T03:44:09","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jivaloka.com\/?post_type=product&#038;p=679"},"modified":"2025-01-05T00:54:19","modified_gmt":"2025-01-05T00:54:19","slug":"imajinasi-sebagai-pendamping-pendidikan-sebuah-pergulatan-filosofis-martha-nussbaum-dalam-merawat-kemanusiaan","status":"publish","type":"product","link":"https:\/\/www.jivaloka.com\/?product=imajinasi-sebagai-pendamping-pendidikan-sebuah-pergulatan-filosofis-martha-nussbaum-dalam-merawat-kemanusiaan","title":{"rendered":"Imajinasi Sebagai Pendamping Pendidikan: Sebuah Pergulatan Filosofis Martha Nussbaum Dalam Merawat Kemanusiaan"},"content":{"rendered":"<p>Judul Buku: Imajinasi Sebagai Pendamping Pendidikan: Sebuah Pergulatan Filosofis Martha Nussbaum Dalam Merawat Kemanusiaan<\/p>\n<p>Penulis: Cicilia Damayanti<\/p>\n<p>Cetakan: 1, 2021<br \/>\nvi+ 250 hlm; 14 x 20 cm<br \/>\n25-jivaloka-publishing<br \/>\nISBN: 978-623-97568-9-4 (Cetak)<br \/>\nISBN: 978-623-97568-0-3 (Digital)<br \/>\nHarga: Rp. 125.000,-<\/p>\n<p><strong><span style=\"color: #ff0000;\">SINOPSIS<\/span><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000080;\">Dalam buku \u00a0<em><i>Imajinasi Sebagai Pendamping Pendidikan: Sebuah Pergulatan Filosofis Martha Nussbaum dalam Merawat Kemanusiaan \u00a0<\/i><\/em>ini, penulis hendak mengupas persoalan imajinasi, yang menurutnya sangat penting untuk dikembangkan dalam pendidikan. Bertolak dari pemikiran Martha Nussbaum, penulis mencoba mengeksplorasi lebih jauh persoalan imajinasi ini untuk menerapkannya dalam pendidikan di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000080;\">Martha Craven Nussbaum adalah filsuf Amerika yang sejak setengah abad yang lalu aktif dalam menyumbangkan pemikiran di berbagai bidang yang luas, bertolak dari minat utamanya, dari Yunani kuna, filsafat Romawi, etika, filsafat sosial, politik, feminism hingga persoalan hak-hak binatang. Buku ini ingin memperkenalkan pemikiran Nussbaum, terutama menyangkut masalah Pendidikan, dan khususnya kaitannya dengan peran imajinasi, bagi penulis, relevan untuk dikemukakan. Dari buku-buku yang dibaca dalam penelitian\u00a0penulis ingin memperlihatkan bagaimana Nussbaum menaruh perhatian yang besar pada pembaruan pendidikan di Amerika Serikat, yang mengalami perubahan. Menurut Nussbaum, pendidikan di Amerika telah bergeser dari \u2018<em><i>artes liberales<\/i><\/em>\u2019, tradisi pendidikan humaniora, yang merupakan tradisi utama sejak zaman Yunani kuna, karena pengaruh kemajuan zaman, terutama di bidang ekonomi.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000080;\">Nussbaum melihat bahwa pendidikan Amerika berpotensi besar mengarah pada profit, atau mengejar keuntungan dengan menekankan hasil-hasil pendidikan yang mendukung kemajuan industri. Kecenderungan ini mengakibatkan pendidikan menjauh dari jalur \u2018kemanusiaan\u2019 yang mulai ditinggalkan semenjak arah pendidikan terpecah dengan adanya jalur vokasi, yang mendidik para siswa untuk mengisi lowongan pekerjaan yang diakibatkan oleh kemajuan-kemajuan industri. Oleh karena itu, minat utama Nussbaum dalam pemikiran tentang pendidikan di Amerika adalah mengembalikan arah itu ke humaniora, tentu saja dengan mengingat perubahan-perubahan situasi perubahan zaman.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000080;\">Tradisi \u2018pendidikan kemanusiaan\u2019 atau yang sering disebut dengan istilah dalam bahasa Latin, \u2018<em><i>artes liberales<\/i><\/em>\u2019, dan dalam bahasa Inggris \u2018<em><i>liberal arts<\/i><\/em>\u2019, secara harfiah dalam bahasa Indonesia seharusnya \u2018pendidikan liberal\u2019. Namun istilah \u2018liberal\u2019 mungkin kurang menguntungkan untuk digunakan dalam bahasa Indonesia, karena asosiasi yang kuat ke Liberalisme, yang bagi masyarakat Indonesia pada umumnya dianggap bernuansa negatif, karena mengajarkan kebebebasan individual. Padahal arti aslinya \u2018<em><i>liberal arts<\/i><\/em>\u2019 atau \u2018pendidikan liberal\u2019 adalah pendidikan yang membebaskan. Bukankah tujuan ini memang merupakan cita-cita manusia dalam pendidikan? Akan tetapi sebagai ideologi, Liberalisme memang mempunyai implikasi yang secara historis berkaitan dengan kapitalisme yang banyak mendapatkan kritikan. Oleh karena itu istilah \u2018pendidikan kemanusiaan\u2019 lebih banyak dikenal dan diterima dalam masyarakat Indonesia.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000080;\">Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan dewasa ini misalnya, bukanlah hal yang harus dipertentangkan dengan arah dasar humaniora, akan tetapi ketika pendidikan diarahkan pada keuntungan ekonomi dan kesejahteraan, teknologi dan ilmu pengetahuan pun terpacu untuk mendukung kepentingan tersebut. Kecenderungan untuk mengejar hasil atau capaian secara eksesif (<em><i>achievements<\/i><\/em>) dalam pendidikan, membuat pendidikan model mesin produksi ini semakin menampakkan kontras yang melawan kemanusiaan. Akan tetapi kemampuan-kemampuan manusia (<em><i>human capabilities<\/i><\/em>) lainnya yang beragam merupakan arah yang bisa berpadanan dengan kemanusiaan, dan karena itu perlu dilanjut-teruskan. Ia meneliti adanya kemampuan-kemampuan seperti kemampuan hidup, menjaga kesehatan, integritas, rasa, imajinasi dan pemikiran, kemampuan emosional, nalar praktis, afiliasi dan sebagainya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000080;\">Namun tujuan pendidikan bukan hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan itu. Dalam konteks pemahaman masyarakat yang dinamis, kemampuan-kemampuan itu tidak ada artinya jikalau tidak difungsikan. Oleh karena itu, tulis Nussbaum pendidikan hendaknya juga harus sampai pada persoalan keadilan, kesetaraan hak, kebebasan dan demokrasi. Sebab hal-hal ini sangat berperan dalam proses fungsionalisasi kemampuan-kemampuan yang dicapai oleh anak didik, khususnya juga kaum perempuan, yang perannya sering dinomor-duakan karena sikap diskriminatif. Dalam arti inilah pemikiran Nussbaum berpautan dengan pemikiran Amartya Sen.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000080;\">Selain mengembangkan kemampuan-kemampuan tersebut dan memperjuangkan fungsionalisasinya dalam masyarakat, dalam hal pendidikan Nussbaum juga mengemukakan tiga kemampuan dasar yang perlu ditanamkan dalam rangka membangun kehidupan bersama, yakni: (i) kemampuan untuk berpikir secara kritis, (ii) kemampuan untuk berpartisipasi dalam persoalan-persoalan dunia yang lebih luas, dan (iii) kemampuan berimajinasi. Tiga hal ini saling berkaitan satu sama lain, dan banyak dikemukakan oleh Nussbaum dalam banyak kesempatan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000080;\">Kemampuan berpikir kritis dikemukakan pertama kali oleh Sokrates, dan dianggap unsur penting oleh Nussbaum dalam pendidikan. Ironisnya, Sokrates justru dipersalahkan karena usahanya mendidik anak-anak muda untuk berpikir kritis ini. Dia diperkarakan karena dituduh meracuni mereka dengan pemikiran yang melawan agama Yunani waktu itu, bahkan dijatuhi hukuman mati. Bagi Sokrates kemampuan berpikir kritis membuat hidup disadari secara penuh dan mempunyai makna dan terarah. Akan tetapi kemampuan berpikir kritis ini mengimplikasikan berbagai hal, kemungkinannya mengubah tradisi dan kebiasaan yang sudah lama diyakini. Dengan kemampuan berpikir kritis, orang diajak untuk menguji ulang kebenaran yang sudah lama dipeluk, untuk dimodifikasikan, disesuaikan dengan realitas aktual. Sokrates mungkin dihukum karena gagasannya menggoncangkan demokrasi Athena waktu itu, merintis transformasi budaya yang tidak mudah bisa diterima.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000080;\">Kemampuan berpikir logis menurutnya, harus diterapkan pertama-tama terhadap diri sendiri, untuk mengritik kekurangan diri sendiri. Sokrates sendiri ketika dipuji sebagai orang paling bijaksana oleh orakel Delphi, justru menyatakan dirinya sebagai orang yang tidak tahu apa-apa. Bukan masalah kerendahan hati dalam hal ini, melainkan kesadaran diri mengenai kenyataan keterbatasannya pengetahuan, sehingga orang harus terus-menerus belajar. Nussbaum beranggapan kemampuan berpikir kritis semacam ini perlu ditanamkan dalam pendidikan kemanusiaan zaman sekarang.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000080;\">Kemampuan kedua yang dia anggap penting adalah kemampaun untuk hidup bersama, atau yang ia ungkapkan sebagai kesadaran sebagai warganegara dunia (<em><i>global citizenship<\/i><\/em>). Kemampuan ini pun mempunyai implikasi yang tidak mudah, karena menuntut kesediaan untuk melampaui keterikatan lokal, regional, untuk mengembangkan kesatuan universal. Tentu saja Nussbaum tidak bermaksud mempertentangkan kedua orientasi ini, melainkan menumbuhkan kesediaan untuk ikut terlibat dan mendekati persoalan-persoalan yang lebih luas dari yang ada di wilayah keyakinannya sendiri. Sebagai \u2018warga dunia\u2019 orang dituntut untuk berani terbuka melihat diri atau kelompoknya sendiri di tengah dunia yang heterogen. Mengutip John Dewey, Nussbaum mengharapkan pendidikan kemanusiaan akan memampukan murid menyesuaikan diri dengan realitas nyata, Dan belajar dari Tagore, mengenai kosmopolitanisme, Nussbaum berpendapat pendidikan hendaknya menganjurkan murid belajar setidaknya satu bahasa asing, untuk bisa mengenal warga dunia yang lain. Siswa janganlah dibiarkan bersarang (<em><i>nestling feeling<\/i><\/em>) dalam budayanya sendiri.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000080;\">Kemampuan ketiga yang perlu dikembangkan adalah kemampuan berimajinasi dengan penuh simpati, membayangkan kesulitan dan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh orang lain. Kemampuan inilah yang menjadi perhatian Lia, penulis buku ini. Kemampuan ini terkait dengan kedua kemampuan di atas dan disebut Nussbaum sebagai \u2018imajinasi naratif\u2019. Dalam wacana etika kemampuan ini sangat diperlukan, untuk bisa memahami emosi, keinginan dan hasrat yang barangkali dimiliki orang lain. Mencoba menempatkan diri dalam posisi orang lain dalam menghadapi permasalahannya (<em><i>putting in the shoes of a person different from oneself<\/i><\/em>), dan menjadi pembaca yang cerdas dari kisah orang lain. Sekali lagi dengan mengutip Tagore, Nussbaum mengiyakan kepentingannya penanaman benih-benih simpati, dan \u00a0mengutip Dewey, Nussbaum juga mengiyakan pendidikan lewat drama, tari, sastra, musik, seni, yang membentuk imajinasi peradaban, melawan tendensi pendidikan yang berorientasi pada capaian sebagai hasil rancangan model mesin. \u201c<em><i>We may become powerful by knowledge, but we attain fullness by sympathy<\/i><\/em>\u201d katanya. Pendidikan bukanlah mencari kekuasaan, melainkan mencari kepenuhan kemanusiaan. Rasa simpati ini bukan saja diabaikan di sekolah-sekolah di Amerika, tetapi malah disudutkan. \u2018Imajinaasi naratif\u2019 kata Nussbaum membuat murid memahami persoalan sebelum membuat keputusan. Bagaimana hal ini dijalankan di Indonesia?<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000080;\">Dalam observasinya terhadap karya-karya Nussbaum, Lia melihat peran imajinasi yang dikemukakan Nussbaum dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yang secara privat berpengaruh pada individu-individu, terutama melalui pembacaan karya-karya sastra dan yang secara sosial-publik langsung berpengaruh dalam kehidupan bersama.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000080;\">Melalui karya sastra terutama novel, imajinasi yang dibentuk membantu pembaca membayangkan berbagai macam perasaan dan keadaan orang lain secara imajiner sampai pada taraf menaruh empati yang dibawa pembaca kemudian dalam kehidupan nyata. Melalui refleksi kritis, perasaan ini dikembangkan dan dihayati. Rasa empati ini bisa saja menyangkut hal-hal yang bersifat sensitif dan kontroversial. Dengan memasuki pengalaman imajiner, pembaca bisa membayangkan misalnya kesulitan seorang homoseksual menghadapi situasi dirinya, sehingga pembaca sampai pada suatu sikap untuk tidak menghakimi. Dengan pemikiran kritis pembaca bisa membayangkan bahwa apa yang dialami oleh pelaku dalam novel bisa saja terjadi dalam dunia nyata.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000080;\">Imajinasi model lain yang langsung bepengaruh dalam kehidupan bersama menyangkut pergaulan dan perjumpaan dengan orang lain di tempat umum. Imajinasi muncul ketika orang berhadapan dengan berbagai macam orang lain yang berbeda latar belakang kebudayaannya. Dalam hal ini imajinasi membantu orang-orang menempatkan diri bersama dalam posisi yang lain, merasakan empati dan saling memahami secara langsung. Perasaan empati bisa meluas dalam pembicaraan politik, yang juga ditumbuhkan melalui tontonan publik, teater, pentas musik dan wacana media. Empati yang dikembangkan bisa diarahkan dengan maksud menumbuhkan rasa patriotisme, kecintaan pada negara dan tanah air sebagai pengalaman bersama. Lebih lanjut seni bangun, monumen bersejarah yang dikenal umum, bisa saja membangun imajinasi menyangkut kehidupan demokrasi dan nilai-nilai yang harus dibangun bersama.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000080;\">Imajinasi merupakan topik aktual dan relevan dewasa ini, yang banyak dibicarakan dalam wacana filsafat. Oleh karena itu pengembangannya dalam wilayah Pendidikan sebagaimana dituturkan dalam buku ini, merupakan sesuatu yang patut dihargai. Penelitian ringkas ini bisa menjadi titik tolak untuk pendalaman yang lebih jauh lagi menyangkut penerapannya dalam pendidikan di Indonesia, khususnya juga dengan perubahan-perubahan baru yang terjadi oleh karena situasi pandemi ini. Pendidikan melalui daring dengan teknologi yang harus dipelajari, penggunaan bahan-bahan virtual, merupakan wilayah baru yang menurut penulis merupakan tantangan kreativitas untuk berimajinasi. \u00a0(A. Sudiarja)<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #003366;\"><strong>Biografi Penulis<\/strong><\/span><\/p>\n<p><strong>Cicilia Damayanti<\/strong> adalah pengajar di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta sejak 2013 sampai sekarang dan alumna program Doktoral di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta. Selain mengajar, ia juga aktif sebagai narasumber dalam berbagai seminar bidang pendidikan. <strong><em>Buku Imajinasi<\/em><\/strong> ini merupakan naskah yang diolah dari disertasinya di STF. Driyarkara, Jakarta.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Judul Buku: Imajinasi Sebagai Pendamping Pendidikan: Sebuah Pergulatan Filosofis Martha Nussbaum Dalam Merawat Kemanusiaan Penulis: Cicilia Damayanti Cetakan: 1, 2021 vi+ 250 hlm; 14 x 20 cm 25-jivaloka-publishing ISBN: 978-623-97568-9-4 (Cetak) ISBN: 978-623-97568-0-3 (Digital) Harga: Rp. 125.000,- SINOPSIS &nbsp; Dalam buku \u00a0Imajinasi Sebagai Pendamping Pendidikan: Sebuah Pergulatan Filosofis Martha Nussbaum dalam Merawat Kemanusiaan \u00a0ini, penulis [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"featured_media":680,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":[],"product_cat":[32],"product_tag":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jivaloka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/product\/679"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jivaloka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/product"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jivaloka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/product"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jivaloka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=679"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jivaloka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/680"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jivaloka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=679"}],"wp:term":[{"taxonomy":"product_cat","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jivaloka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fproduct_cat&post=679"},{"taxonomy":"product_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jivaloka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fproduct_tag&post=679"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}